metode kuliah yang tidak menyentuh substansi



Dituntut untuk menjadi kaum yang tercerdaskan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tak dapat dipungkiri bahwasanya ada factor-faktor lain baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi perkembangan seorang mahasiswa untuk menjadi kelompok kaum intelektual yang mengembang banyak tugas di pundaknya.

Satu hal yang menurut saya sangat mendasar adalah metode perkuliahan yang tak menyentuh substansi, sebuah realita yang sedikit banyak saya temukan bahwasanya mahasiswa pada saat ini malas berpikir hanya pandai menggunakan teori-teori usang yan entah mungkin tak cocok lagi dipakai pada zaman sekarang ini.

Jelas selain mematikan pemikiran, masalah ini juga membuat ilmu pengetahuan tidak berkembang. Bagaimana tidak teori-teori usang dijadikan seperti sebuah teks pembenar yang tidak bisa terbantahkan padahal seharusnya teori lama menjadi sebuah teks pembanding agar muncul teori baru yang lebih cocok untuk di implementasikan pada zaman sekarang.

Sedikit banyak pergeseran sudut pandang tentang fungsi teori ini menggiring kita menuju kesesatan yang menimbulkan kemandekkan berpikir.  Akar permasalahannya bisa dikatakan tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada mahasiswa selaku subjek yang menjalani proses pembelajaran namun juga metode perkuliahan yang diterapkan dosen selalu menuntut mahasiswa menjadi makhluk yang senang meng-copy-pastekan apa yang tertulis di buku.

Hal yang lebih ironis lagi adalah ketika mahasiswa melakukan suatu bentuk kritik atau sanggahan sebagai hasil dari dialektikanya atas materialisme yang dia dapatkan dari buku yang dia pelajari bukannya diberikan apresiasi tapi malah dijadikan sebuah kesalahan fatal yang bisa disamakan dengan pemurtad’an. Kurangnya tugas untuk melakukan sebuah analisis terhadap realita ditenggarai menjadi akar munculnya permasalahan ini, dosen lebih senang membacakan apa yang ada dibuku dan mahasiswa meyalinnya ke dalam otaknya.

Itulah mengapa sedikit banyak mahasiswa pada zaman sekarang ini menjadi hamba teori yang memandang teori yang telah ada adalah sebuah aforisma atau kebenaran yang tak terbantahkan lagi sehingga menjadikan kita sebagai makhluk yang hanya pandai menyalin apa yang orang dulu pikirkan. Alangkah bodohnya kita masih menerapkan teori yang diciptakan orang yang hidup di zaman terdahulu yang notabene belum didukung tekhnologi seperti kita yang hidup di zaman sekarang.

Lantas siapakah yang dapat disalahkan jika generasi yang tercipta nantinya adalah generasi yang tidak dapat melakukan apa-apa kecuali hanya bisa menyalin dikte dari orang lain dan menghambakannya seolah-olah itu adalah sebuah jalan kebenaran yang harus diikuti dan diyakini.

 

                                                                                                                By: Ahmad Yogi

                                                                                (terinspirasi dari tulisan immawan zulkipli abu)Description: metode kuliah yang tidak menyentuh substansi Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: metode kuliah yang tidak menyentuh substansi


Shares News - 15.51
Read More Add your Comment 2 komentar


Dunia Simbol



Dunia symbol mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan kita dengan segala aktivitas kita di muka bumi ini. Kehidupan manusia yang semakin lama  semakin dipenuhi symbol-simbol untuk mempertegaskan eksistensinya di bumi. Sedikit banyak tidaklah salah jika hidup dipengaruhi oleh symbol tapi ketika symbol tersebut menjadikan ketergantungan manusia terhadapnya maka hal tersebut juga tidaklah dapat dibenarkan

Apa yang dimaksudkan symbol disini adalah segala sesuatu yang dianggap mewakili kondisi atau kejadian sebenarnya, symbol dapat menjadi identitas atau ciri khas dari seorang individu maupun sebuah kelompok. Misalnya saja orang yang pintar adalah seorang kutu buku yang selalu membawa buku kemanapun dia pergi, orang yang taat beragama adalah orang yang selalu memakai ornament keagamaannya, orang islam adalah yang memakai sarung dan baju koko. Dll

Dari sudut padang positif memang symbol tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dan terkadang juga symbol-simbol tersebut dibutuhkan oleh manusia sebagai identitasnya. Hal yang sama sekali tidak salah karena penggunaan symbol yang sejalan dengan tugas dari symbol itu sendiri yaitu sebagai ciri dari seorang individu maupun sebuah kelompok.

Namun dari sudut pandang negative symbol dapat juga menjadikan ketergantungan manusia, memanfaatkan symbol untuk menancapkan tiang pondasi eksistensinya. Tidak sedikit orang yang memanfaatkan kuasa symbol ini, saya menyebutnya kuasa symbol karena begitu besarnya pengaruhnya terhadap kehidupan antar manusia. Misalkan saja seorang yang pandai akan memiliki banyak teman, tetapi bagi yang kurang pandai maka dia akan memanfaatkan symbol seorang kutu buku agar orang lain menganggap dirinya pandai.

Dari contoh diatas jelas itu adalah sebuah kesesatan berpikir, bagaimana tidak seharusnya yang dilakukan adalah belajar menjalani proses agar menjadi pandai bukannya malah memanfaatkan kuasa symbol agar mendapatkan pengakuan dari individu lain. Ya dapat dikatakan bahwa pemanfaatan kuasa symbol yang tak sejalan pada posisinya menjadikan manusia malas berpikir sebab memang hanya dengan memanfaatkan kuasa symbol kita sudah bisa medapatkan pengakuan eksistensi yang jelas diinginkan oleh setiap individu yang merdeka.

Oleh karena itu kuasa symbol yang disalaartikan dapat menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan piker perihal kehidupan yang dijalaninya maka sebaiknyalah kita mengubah sudut pandang kita, bukan untuk mencari eksistensi melainkan esensi mengenai kehidupan sebab dengan begitu kita akan dapat lebih banyak daripada hanya memanfaatkan kuasa symbol sebagai jalan mencapai tujuan eksistensi manusia dimata manusia lainnya.

 Description: Dunia Simbol Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Dunia Simbol


Shares News - 22.45
Read More Add your Comment 4 komentar